Sejarah Pura Gunung Jimbar
(Desa Pekraman Beng - Gianyar)
PURA
GUNUNG JIMBAR
1. PRAKATA
Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa adalah Pencipta
alam semesta dengan segala isinya
termasuk pula umat manusia. Penjelasnan ini dapat dijumpai dalam kitab
suci Weda yaitu: “ Purusa ewedam sarwam yad bhutam yasca bhawyam utamrtatwas yecam yudam′
nena′
ti rohati “. Rg Weda X. 89.2 ( Sang Hyang Widhi adalah pencipta
alam semesta, baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhi adalah
yang kekal abadi, yang hidup tanpa makanan, Melihat isi kitab suci tersebut
sudah sewajarnya kita melaksanakan
yandnya sebagai timbal balik terimakasih manusia kepada Ida sang Hyang Widhi wasa. yang kita yakini sebagai pencipta alam
semesta ini atas dasar Yadnya, yang dalam bahasa sansekerta berasal dari kata
Yaj, yang artinya berkorban. jadi Yadnya yang artinya pengorbanan yang
dilandasi ketulus iklasan hati, maka berdasarkan pemahaman tesebut diatas dan kita yakini menurut sejarah
bahwa keberadaan Pura Gunung
Jimbar adalah pura tertua di Desa Beng yang merupakan Lingga istana Sang Hyang Ista Dewata yang patut
kita agungkan dan sucikan. Pelaksanaan upacara mamungkah sudah dilaksanakan
tahun 1975, padahal pelaksanaan upacara yang sama harus dilaksanakan setiap 30
tahun sekali, maka sampai saat ini sudah dilaksanakan 40 tahun yang lalu,
sehingga kami sebagai penerus merasa wajib dan terpanggil untuk melaksanakan
upacara yang sama sebagai wujud bakti kepada sesuhunan untuk menjaga
keseimbangan alam.
2.
SEJARAH
PURA GUNUNG JIMBAR
Pura Gunung Jimbar tidak dapat dipisahkan
dari perjalanan Ida Idewa Anom Kuning (Ida Idewa Manggis Kuning) yang datang
dari daerah Badung
untuk menyelamatkan diri dari kejaran Prajurit I Gusti Tegeh Kori penguasa
Daerah Badung.Dalam perjalananya itu, akhirnya sampailah di suatu hutan yang
ditumbuhi oleh banyak pohon bengkel, sehingga hutan itu disebut hutan (alas)
bengkel.
Kedatangan
Putra Sri Dalem Segening ini disambut dan diterima dengan senang hati oleh Ki
Dukuh Patalesan yang sebagai penghuni alas Bengkel tersebut.Kedatangan Ida
Idewa Anom Kuning di hutan Bengkel ini kurang lebih tahun 1600
masehi.Kedatangan Ida Idewa Anom Kuning di hutan Bengkel, tidak henti-hentinya
memohon keselamatan terhadap Tuhan Yang maha Esa, dengan melaksanakan yoga dan
semadhi.
Pada suatu hari ketika Ida Idewa Anom
Kuning merabas hutan ke sebelah selatan dari lokasi pemukimanya, ditemukan ada Pura (tempat Suci) dan dari saat
itu beliau selalu memuja untuk memohon anugrah keselamatan dan tidak lupa
sehari-hari membersihkan serta memelihara Pura (tempat suci) tersebut. Berkat
ketulusan hati beliau merawat Pura tersebut , yangmana pada suatu ketika Ista
Dewata (Dewi gangga/ Dewi Giri Putri ) yang bersemayan di sana berkenan memberi
anugrah berupa besi tombak yang berada dalam kayu api , yang dipungut oleh
istrinya Ni Gusti Ayu Pahang
sewaktu beliau berendam di Tukad Panti
(Sungai panti). Kemudian senjata Tombak itu dikenal dengan sebutan Ki
Baru Alis.
Lama kelamaan hutan Bengkel ini, dari hari ke hari tiada
terbilang jumlah para pengembara(pengalu) yang ikut menetap di tempat
ini, sehingga lama kelamaan menjadilah pusat pemukiman yang disebut dengan Desa
Bengkel l(sekarang menjadi Desa Beng) dan Pura tersebut setelah diperbaiki
sesuai dengan asta kosala kosali dikenal
sekarang bernama Pura Gunung Jimbar, yang artinya;
Pura
adalah sebagai tempat suci yang untuk memuja Ista Dewata Dewi Gangga/Dewi Giri Putri.
Gunung
adalah tempat yang tinggi.
Jimbar
adalah luas.
Karena berkat anugrah dari Ista Dewata yang
bersemayam di Pura ini, maka beliau Ida Idewa Anom Kuning mendapat kekuasaan
(menjadi penguasa) yang tinggi (menjadi raja) dan kewibaaanya sangat tersohor
dan meluas sampai ke Desa-desa (daerah) lain, sehingga sampai sekarang
keturunan Ida Idewa Anom Kuning memegang kekeuasaan di Kabupaten Gianyar (Puri
Gianyar).
3.JUMLAH PEMAKSAN /PENGEMPON PURA GUNUNG JIMBAR
Jumlah pemaksaan /pengempon pure
Gunung Jimbar sebanyak 264 KK ( kepala keluarga) dengan jumlah keluarga sebanyak
: 1.264 orang.
Yang dimaksud dengan Pemaksan adalah Pengempon yang tercatat dalam daftar
buku induk mempunyai kewajiban dan tenggung jawab tetap terhadap kelangsungan
pemeliharaan pura baik fisik dan non fisik
termasuk melaksanakan berbagai upacara sesuai dengan tradisi, selain Pemaksan ada juga
yang disebut Penyiwi yang tidak
mempunyai kewajiban dan tanggung jawab mutlak terhadap bangunan pisik maupun
non pisik tetapi ikut melakukan bakti setiap ada upacara piodalan dengan tulus
ikhlas sebagai rasa subakti kepada sesuhunan sane melinggihlingga di pura
Gunung Jimbar.
Jumlah Penyiwi sampai saat
ini yang berada di Desa Pekraman Beng telah mencapai kurang lebih 350 KK ( kepala keluarga ) dan yang
berada di luar desa Beng kurang
lebih 108 KK ( kepala keluarga).
