Rabu, 18 Maret 2015


Sejarah Pura Gunung Jimbar
(Desa Pekraman Beng - Gianyar)

PURA GUNUNG JIMBAR

1.    PRAKATA
Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa adalah Pencipta alam semesta dengan segala isinya  termasuk pula umat manusia. Penjelasnan ini dapat dijumpai dalam kitab suci Weda yaitu: “ Purusa ewedam sarwam yad bhutam yasca bhawyam utamrtatwas yecam yudam nena ti rohati “. Rg Weda  X. 89.2 ( Sang Hyang Widhi adalah pencipta alam semesta, baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhi adalah yang kekal abadi, yang hidup tanpa makanan, Melihat isi kitab suci tersebut sudah  sewajarnya kita melaksanakan yandnya sebagai timbal balik terimakasih manusia kepada  Ida sang Hyang Widhi wasa.  yang kita yakini sebagai pencipta alam semesta ini atas dasar Yadnya, yang dalam bahasa sansekerta berasal dari kata Yaj, yang artinya berkorban. jadi Yadnya yang artinya pengorbanan yang dilandasi ketulus iklasan hati, maka berdasarkan pemahaman tesebut  diatas dan kita yakini menurut sejarah bahwa   keberadaan Pura Gunung Jimbar  adalah  pura tertua di Desa Beng yang merupakan  Lingga istana Sang Hyang Ista Dewata yang patut kita agungkan dan sucikan. Pelaksanaan upacara mamungkah sudah dilaksanakan tahun 1975, padahal pelaksanaan upacara yang sama harus dilaksanakan setiap 30 tahun sekali, maka sampai saat ini sudah dilaksanakan 40 tahun yang lalu, sehingga kami sebagai penerus merasa wajib dan terpanggil untuk melaksanakan upacara yang sama sebagai wujud bakti kepada sesuhunan untuk menjaga keseimbangan alam.
           
2.    SEJARAH PURA GUNUNG JIMBAR
     Pura Gunung Jimbar tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Ida Idewa Anom Kuning (Ida Idewa Manggis Kuning) yang datang dari daerah Badung untuk menyelamatkan diri dari kejaran Prajurit I Gusti Tegeh Kori penguasa Daerah Badung.Dalam perjalananya itu, akhirnya sampailah di suatu hutan yang ditumbuhi oleh banyak pohon bengkel, sehingga hutan itu disebut hutan (alas) bengkel.
Kedatangan Putra Sri Dalem Segening ini disambut dan diterima dengan senang hati oleh Ki Dukuh Patalesan yang sebagai penghuni alas Bengkel tersebut.Kedatangan Ida Idewa Anom Kuning di hutan Bengkel ini kurang lebih tahun 1600 masehi.Kedatangan Ida Idewa Anom Kuning di hutan Bengkel, tidak henti-hentinya memohon keselamatan terhadap Tuhan Yang maha Esa, dengan melaksanakan yoga dan semadhi.
     Pada suatu hari ketika Ida Idewa Anom Kuning merabas hutan ke sebelah selatan dari lokasi pemukimanya, ditemukan ada Pura (tempat Suci) dan dari saat itu beliau selalu memuja untuk memohon anugrah keselamatan dan tidak lupa sehari-hari membersihkan serta memelihara Pura (tempat suci) tersebut. Berkat ketulusan hati beliau merawat Pura tersebut , yangmana pada suatu ketika Ista Dewata (Dewi gangga/ Dewi Giri Putri ) yang bersemayan di sana berkenan memberi anugrah berupa besi tombak yang berada dalam kayu api , yang dipungut oleh istrinya Ni Gusti Ayu Pahang sewaktu beliau berendam di Tukad Panti (Sungai panti). Kemudian senjata Tombak itu dikenal dengan sebutan Ki Baru Alis.
     Lama kelamaan hutan Bengkel ini, dari hari ke hari tiada terbilang  jumlah para pengembara(pengalu) yang ikut menetap di tempat ini, sehingga lama kelamaan menjadilah pusat pemukiman yang disebut dengan Desa Bengkel l(sekarang menjadi Desa Beng) dan Pura tersebut setelah diperbaiki sesuai dengan asta kosala kosali  dikenal sekarang bernama Pura Gunung Jimbar, yang artinya;
Pura adalah sebagai tempat suci yang untuk memuja Ista Dewata Dewi Gangga/Dewi Giri Putri.
Gunung adalah tempat yang tinggi.
Jimbar adalah luas.
     Karena berkat anugrah dari Ista Dewata yang bersemayam di Pura ini, maka beliau Ida Idewa Anom Kuning mendapat kekuasaan (menjadi penguasa) yang tinggi (menjadi raja) dan kewibaaanya sangat tersohor dan meluas sampai ke Desa-desa (daerah) lain, sehingga sampai sekarang keturunan Ida Idewa Anom Kuning memegang kekeuasaan di Kabupaten Gianyar (Puri Gianyar).

3.JUMLAH  PEMAKSAN /PENGEMPON PURA GUNUNG JIMBAR
           Jumlah pemaksaan /pengempon pure Gunung Jimbar  sebanyak  264 KK ( kepala keluarga)  dengan  jumlah keluarga  sebanyak  :  1.264 orang.
Yang dimaksud dengan  Pemaksan adalah Pengempon yang tercatat dalam daftar buku induk mempunyai kewajiban dan tenggung jawab tetap terhadap kelangsungan pemeliharaan pura baik  fisik dan non fisik termasuk melaksanakan berbagai upacara sesuai dengan tradisi, selain Pemaksan ada juga yang disebut Penyiwi  yang tidak mempunyai kewajiban dan tanggung jawab mutlak terhadap bangunan pisik maupun non pisik tetapi ikut melakukan bakti setiap ada upacara piodalan dengan tulus ikhlas sebagai rasa subakti kepada sesuhunan sane melinggihlingga di pura Gunung Jimbar.
Jumlah Penyiwi sampai saat ini yang berada di Desa Pekraman Beng telah mencapai kurang lebih  350 KK ( kepala keluarga ) dan yang berada  di luar desa Beng kurang lebih  108 KK ( kepala keluarga).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar